Sejarah Ibadah Haji Dari Sudut Pandang Ilmiah

Sejarah Ibadah Haji Dari Sudut Pandang Ilmiah
Kita dapat memaknai fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh 
(QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah.

Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70). 

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud.

Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4). 

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19). 

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28). 

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11). 

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5). 

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.

Memahami makna ibadah haji, membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau. Ibrahim as. dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “Bapak monotheisme,” serta “proklamator keadilan Ilahi” kepada beliaulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini.

Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang mempengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah kemanusiaan. Tapi seperti tulisan al-Akkad, “Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as. merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, … yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s