Taqwa Puncak Puasa

Taqwa Puncak Puasa

           Masalah tanggung jawab pribadi dan berhubungan langsung kepada Tuhan berkaitan juga dengan puasa. Puasa itu adalah latihan untuk menghayati hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan. Sebab, di antara semua ibadat yang paling bersifat pribadi adalah puasa. Maksudnya ialah, yang tahu kita ini puasa atau tidak hanya kita dengan Tuhan, orang lain tidak. Mengapa ketika kita dalam keadaan lapar dan dahaga, dan sendirian, kita tetap menahan diri untuk tidak makan dan minum? Itu sebetulnya adalah latihan untuk bersikap jujur kepada Allah swt dan juga kepada diri sendiri.

          Sementara itu, kalau dalam ibadat lain selain puasa, kita dianjurkan sepublik mungkin. Misalnya kalau kita salat sebaiknya berjamaah, karena mempunyai fungsi sosial: memperkuat ikatan komunitas salat. Haji juga dilaksanakan bersama banyak orang. Zakat lebih menarik lagi, karena dalam al-Qur’an ada indikasi bahwa Tuhan tidak peduli apakah orang dalam membayar zakat itu ikhlas atau tidak. Yang penting dari zakat adalah orang miskin tertolong, karena tujuan zakat adalah menolong orang miskin.

          Sekali lagi, di antara ibadat-ibadat yang paling bersifat pribadi adalah puasa. Puasa merupakan latihan untuk menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kita; Tuhan selalu beserta kita di mana pun kita berada. Inilah sebenarnya inti dari takwa: kesadaran bahwa dalam hidup ini kita selalu mendapat pengawasan dari Allah swt yang gaib. Maka dari itu, kalau kita baca ayat-ayat pertama surat al-Baqarah, “Alif Lâm Mîm. Inilah Kitab yang ti ada diragukan; suat petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (Q. 2: 1-2). Dan indikasi pertamanya adalah, “Mereka yang beriman kepada yang gaib,” (Q. 2: 3).

          Moralitas yang sejati memerlukan dimensi kegaiban, yaitu bagaimana orang tetap berbuat baik dan menghindar dari kejahatan meskipun tidak ada yang tahu, karena Allah tahu. Dalam konteks ini, banyak analis mengatakan bahwa di situlah terletak kegagalan komunisme. Komunisme, kita tahu, adalah paham yang sangat tinggi ajaran moralitasnya: menginginkan keadilan sosial dan semacamnya. Tetapi, karena aspek gaibnya tidak ada, mereka gagal total. Karena itu, dasar kehidupan yang benar ialah takwa kepada Allah swt. Dan takwa kepada Allah itu pribadi sifatnya: tidak ada yang tahu bahwa kita bertakwa kepada Allah atau tidak, kecuali kita sendiri dan Allah swt, dan bahkan mungkin kita sendiri juga tidak tahu. Karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,” (Q. 1: 6).

            Hal ini sama dengan ikhlas, yang juga bersifat rahasia. Ada sebuah ungkapan dalam kitab tasawuf yang artinya begini, “Amal perbuatan adalah gambar yang mati, dan ruhnya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.” Mengapa ada ungkapan rahasia? Ini sebetulnya berdasarkan sebuah hadis Nabi yang menceritakan bahwa ada orang bertanya kepada Nabi mengenai ikhlas. Ternyata Nabi tidak tahu. Nabi kemudian bertanya kepada Jibril. Jibril pun tidak tahu. Lalu, melalui Jibril pembawa wahyu, Nabi bertanya kepada Allah swt. Maka Allah swt menjawab, “Ikhlas itu adalah salah satu dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku titipkan di dalam hati para hamba-Ku yang Aku cintai.” Jadi sedemikian rahasianya, malaikat pun tidak bisa tahu sehingga tidak bisa mencatat, dan setan pun tidak bisa tahu sehingga tidak bisa merusak. Itulah ikhlas, dan ikhlas ada korelasinya dengan takwa. Maka dari itu, ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa manusia tidak boleh merasa sok suci, “Dia lebih tahu tentang kamu ketika Ia mengeluarkan kamu dari bumi, dan ketika kamu masih tersembunyi dalam rahim ibumu. Karenanya,  janganlah kamu mengganggap diri kamu suci. Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan,” (Q. 53: 32). Takwa itu ada di dalam dada, bersifat pribadi sekali, dan karena itu dimensinya pun langsung dengan Tuhan (habl-un min-a ‘l-Lâh).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s