Indahnya Bid’ah

Indahnya Bid’ah

      Kupas Tuntas Hadits

…كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“…sesungguhnya setiap Bid’ah itu sesat” ( HR Ahmad Abu Dawud Ibnu Majah Turmudzi.)

 

 

 

 

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Pencipta langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya. Dia mewahyukan urusan pada setiap langit. Dia Maha menentukan dan Maha memberi rizki. Shalawat mulia, penghormatan tinggi dan kemuliaan sempurna semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad sang penghulu semua alam, sumber segala rahmat dan yang terindah di antara semua ciptaanNya yang mendapat perintah agar berkata, “. Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskanQS al Ahqaf : 9. juga atas keluarganya yang suci bersinar penuh berkah, para sahabatnya yang laksana bintang gemintang petunjuk dan para pemimpin agama, serta para pengikut setia mereka hingga hari kiamat.

 

Sungguh ketika matahari ilmu telah terbenam dan kilat cahaya kebodohan mulai menampak sebagai pertanda kiamat kian mendekat – seperti telah dikabarkan oleh manusia jujur terpercaya shallallahu alaihi wasallam – maka  saat itulah orang – orang yang tidak memiliki keahlian berbicara tentang agama dan syariat Allah. Iapun tersesat dan membawa diri serta para pengikutnya masuk dalam kehancuran. Akhirnya realitas kebenaran (Haqaiq) terbalik dan jalan – jalan pun berubah. Kemungkaran menjadi kebaikan, sunnah menjadi bid’ah, kenakalan (Jafa’) dianggap sebagai bagian agama, kekerasan hati terkategori sebagai bernilai Qurbah. Dan ujian terbesar yang menimpa mayoritas kaum muslimin adalah klaim dan tuduhan yang diarahkan kepada agama mereka. Klaim dan tuduhan itu memberikan stigma (cap buruk) kepada mereka sebagai pelaku bid’ah dan keluar dari jalan yang benar. Inilah realitas dari statement yang pernah dilontarkan Abdullah bin Umar ra terkait kaum Khawarij:

          عَمِدُوْا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِى الْكَافِرِيْنَ فَحَمَلُوْهَا عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

Mereka datang kepada ayat – ayat yang turun terkait kaum kafir dan lalu mempergunakannya untuk menyerang kaum beriman “

 

Kondisi ini membawa kaum muslimin berada dalam lingkaran bencana besar; di antara orang – orang kafir yang tidak akan rela kecuali kaum muslimin mau berganti agama. Di anatara orang – orang fasiq yang senantiasa menjajakan syahwat dan kesenangan. Dan di antara orang – orang munafiq yang mengambil posisi membelakangi kitab Allah. Ketika kaum muslimin berlari dari lingkaran bencana ini menuju ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah maka mereka segera dikejar dan ditabrak oleh sekelompok orang terpelajar yang berusaha menanamkan kebencian akan agama Allah dan memberikan hukum tidak sah atas amal – amal mereka dan bahwa aqidah mereka sesat. Mereka (sekelompok orang terpelajar) itupun berhasil memberikan batasan atas kaum muslimin. Mereka tidak melihat kebenaran kecuali berdasarkan sisi pandang mereka yang sempit dan standar (Miqyas) mereka yang sesat dan membingungkan umat dalam kondisi fitrah dan naluri umat yang merindu Maqam mulia di sisi Allah.

 

Selain sebagian kaum terpelajar tersebut, juga ada orang – orang yang ingin tampil di muka karena merasa bertanggung jawab atas syariat tetapi mereka justru berperan sebagai penghalang di jalan Allah dengan sengaja, salah atau karena kebodohan mereka. Laa Haula wala Quwwata illa billah al Aliyyi al Azhim.

 

Semua hal itulah dan mungkin lebih banyak lagi yang memberikan inspirasi dan motivasi diriku – meski bukan ahli di bidang ini – untuk ikut berbicara tentang esensi bid’ah dengan segala kemudahan yang diberikan Allah seraya berharap dariNya agar menjauhkan diriku dari kesalahan, menunjukkan dan membawa diriku kepada kebenaran. Sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha dekat.

 


Paradoksi Dua Kumpulan Hadits

 

Ada dua kumpulan ( Majmu’ah ) hadits yang secara eksplisit bertentangan:

 

Kumpulan Pertama

 

  1. Hadits riwayat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat dengan kami. Setelah itu Beliau (berbalik) menghadap kami dan lalu memberikan nasehat yang membuat air mata menetes dan hati dicekam rasa takut. Seseorang lalu berkata: Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat orang yang berpamitan, karena itu berikanlah wasiat kepada kami! Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِـيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku berwasiat agar kalian bertaqwa(kepada Allah), mendengar dan menurut ( pemimpin) meski seorang hamba sahaya dari Habasyah. Sungguh barang siapa dari kalian hidup sesudahku maka akan menyaksikan banyak perbedaan, maka tetapilah sunnahku dan sunnah al  khulafa ar rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia dan gigitlah dengan gigi graham. Waspadailah perkara – perkara baru sebab sungguh setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat “ ( HR Ahmad Abu Dawud Ibnu Majah Turmudzi.)

 

Imam Turmudzi berkata: (Ini adalah hadits yang hasan sekaligus shahih).

Hadits ini juga memiliki dasar dalam shahih Muslim riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu dengan matan hadits: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Sesungguhnya sebaik –  baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk – buruk perkara adalah hal – hal yang diperbaruhi dan setiap bid’ah itu sesat “

  1. Hadits Aisyah radhiyallahu anha . Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang memperbaruhi dalam urusan kami hal yang bukan bagian darinya maka ia ditolak “ (HR Bukhari Muslim)

Dalam versi lain riwayat Imam Muslim berbunyi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasar pada urusan kami maka ia ditolak “

 

Kumpulan Kedua

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ وَمَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّـئَةً فَلَهُ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Barang siapa membuat suatu sunnah hasanah (perbuatan baik) dalam Islam  maka baginya pahala dan pahala orang – orang yang melakukan setelahnya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan barang siapa yang membuat suatu sunnah sayyi’ah ( perbuatan buruk ) maka atasnya dosa dan dosa orang – orang yang melakukan setelahnya tanpa sedikutpun mengurangi dosa mereka“  ( HR Muslim Ahmad Turmudzi Nasai Ibnu Majah )

 

Selain riwayat dari Jarir, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hudzaifah, Abu Juhaifah, Amar bin Auf dan para sahabat lain radhiyallahu anhum.

 

Dalam versi Imam Muslim, Imam Ahmad, Turmudzi, Abu Dawud Ibnu Majah dan Nasa’i yang bersumber dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda:

 

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًي كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْـئًا وَمَنْ دَعَا إِلَي ضَلاَلَةٍ كَانَ لَهُ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِـعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْـئًا

 

Barang siapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala – pahala para pengikutnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barang siapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa – dosa para pengikutnya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka “

 

Redaksi masing – masing hadits tersebut menggunakan bahasa umum (  كُلٌّ , مَنْ ) yang karena itulah kita harus membuat langkah perpaduan (Taufiq) di antaranya sebab secara khusus hadits – hadits tersebut bersumber dari manusia yang tidak berucap atas dasar keinginan (tetapi berdasarkan wahyu. Pent). Para ulama sepakat akan hal ini.

 

Sementara itu para ulama dalam mempersempit (men – Takhshish) cakupan wilayah dua kumpulan di atas terbagi dalam dua madzhab / aliran;

 

  1. Madzhab Pertama

–          Mengarahkan Kumpulan Pertama kepada ibadah dan segala urusan agama

–          Mengarahkan Kumpulan Kedua kepada kebiasaan dan semua urusan dunia

 

  1. Madzhab Kedua

–          Mengarahkan Kumpulan Pertama kepada hal – hal yang bertentangan dengan prinsip / dalil dasar agama (al Ushul)

–          Mengarahkan Kumpulan Kedua kepada  hal – hal yang selaras dengan al Ushul memiliki makna yang bisa dicerna akal (Logis)

 

Pembahasan berikut ini akan terfokus empat poin berikut; 1) Kelemahan Madzhab Pertama, 2)  Mengunggulkan Madzhab Kedua, 3)  Kesalahan – Kesalahan Madzhab Pertama, 4) Kelemahan – kelemahan Madzhab Kedua .

 

 

 

I.Kelemahan Madzhab Pertama

 

  1. Membedakan urusan dunia dan agama dari sisi pandang dan kaca mata Islam adalah hal yang ditolak dan sesuatu yang langkah ( jauh ) dari syariat Allah sebab semua yang diperintahkan agama adalah termasuk ibadah sekalipun itu murni urusan dunia sebagaimana sabda  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

…وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ , قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى الْحَرَامِ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“ …dan dalam kemaluan salah seorang kalian adalah sedekah “ mereka ( para sahabat ) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang kami memuaskan syahwatnya dan ia mendapatkan pahala ?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “ Bagaimana seandainya ia meletakkannya di tempat yang haram?, bukankah ia mendapatkan dosa?! Begitu pula  jika ia meletakkannya di tempat halal maka ia mendapat pahala “ ( HR Muslim dari Abu Dzar ra )

 

Apalagi urusan dunia seperti jual beli, transaksi dan lain – lain juga memiliki standar dan batasan syariat. Hal – hal yang menjadi kebiasaan (adat) bisa memiliki nilai ibadah dengan niat. Semua hal Mubah yang disertai niat yang baik berubah menjadi ketaatan kepada Allah. Sementara karena niat yang buruk ( salah. Pent ), terkadang seseorang harus menerima resiko karena melakukan hal Mubah tersebut. Atas dasar inilah muncul satu prinsip atau kaidah Sadd ad-Dzaroo’i ( memangkas jalan yang mengarah / memutus sarana yang bisa mengantarkan ). Dalam shahih Muslim disebutkan:

قَالُوْا لِسَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةِ  ! قَالَ : أَجَلْ…

 

Mereka (Yahudi) berkata kepada Salman radhiyallahu anhu:” Sungguh Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala hal sampai tata cara buang air besar “ Salman pun mengiyakan…

 

  1. Jika yang dimaksudkan adalah ibadah – ibadah dalam pemahamannya yang sempit  yakni wilayah empat rukun Islam (shalat, puasa, zakat dan haji) berarti kebanyakan bid’ah – bid’ah, tidak termasuk dalam kelompok ibadah tersebut seperti halnya Maulid, Tasbih, Jabat tangan usai shalat, Menghias masjid dll. Semua bid’ah ini tidak ada kaitannya dengan ibadah dalam pemahamannya yang sempit.

 

  1. Jika maksud ibadah – ibadah itu adalah segala yang diperintahkan dan yang dilarang syariat secara umum dan seluruhnya dianggap sebagai ibadah (ini lebih dekat dengan nash syara’) maka dipastikan akan menutup pintu Qiyas secara total. Padahal Qiyas adalah salah satu dasar agama yang disepakati karena posisi Qiyas yang menjadi pintu guna mengetahui Halal dan Haram,Wajib dan Mahzhur ( yang dilarang ), dan bukan hanya untuk mendeteksi hal sunnah dan mubah saja seperti kebanyakan hal – hal bid’ah di atas.

 

 

Kita semua mengerti betapa banyak para ulama menganalogikan (meng – Qiyas – kan) hal – hal yang tidak pernah ada pada masa Nubuwwah dengan suatu hal yang memiliki standar Nash karena memiliki suatu illat (inti masalah) yang sama. Mereka lalu memberikan hukum pada hal – hal tersebut dengan hukum seperti hukum hal yang telah memiliki standar nash baik berupa wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.

 

Kiranya hal demikian tidak mungkin dilakukan para ulama kalau memang ibadah tidak memiliki makna yang logis. Mereka tidak akan pernah melakukan hal itu jika memang di sana tidak ada dasar – dasar ( Ushul ) yang bisa menjadi patokan standar dan bisa digali guna menelorkan banyak cabang karena mereka mengerti betapa memutuskan suatu hukum berupa Halal dan Haram adalah urusan yang sangat penting. Allah subhaanahu wata’alaa berfirman:

وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْـتَرُوْا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ , إِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُوْنَ

“ Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut – sebutoleh lidah kalian secara dusta “Ini halal dan ini haram “, untuk mengada – adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang – orang yang mengada – adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah mereka beruntung“ QS an Nahl : 116.

 

Meski demikian para ulama, termasuk pemuka mereka yakni para sahabat yang mulia tetap memasuki pintu ini (memutuskan hukum. Pent) dan mereka pun membicarakannya dengan pembahasan yang sesuai dan layak. Inilah arti sebuah riwayat dari Abu Bakar radhiyallahu anhu bahwasanya jika ada perselisihan maka Beliau melihat kitab Allah. Bila menemukan maka Beliau memutuskan dengannya. Jika tidak menemukan maka bila mengetahui sesuatu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka Beliau memutuskan dengan itu. Dan jika menemukan jalan buntu maka Beliau bertanya kepada orang banyak: “Apakah kalian mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuat suatu keputusan tentang hal itu? “Maka terkadang beberapa orang datang berkumpul kepada Abu Bakar dan seluruhnya menuturkan keputusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  tentang sesuatu hal. Menanggapi hal ini Abu Bakar ra lalu berkata: “ Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menjadikan di antara kami orang – orang yang menjaga ilmu Nabi kami “.

 

Bila masih menemukan kebuntuan maka Abu Bakar ra mengumpulkan para pemuka dan orang – orang pilihan untuk diajak berembug dan betukar fikiran. Bila semua telah sepakat akan suatu hal maka Abu Bakar ra pun menjadikannya sebagai sebuah keputusan. ( Diriwayatkan Abu Ubed dalam Kitab al Qadha’ ). Meski begitu Abu Bakar ra hanya mengajak mereka bertukar fikiran terkait masalah yang mempunyai makna logis serta memiliki sandaran dalil agama Allah. Sikap dan prinsip yang demikian juga dilakukan oleh Umar ra.

 

Jika pembahasan tentang Wajib dan Haram seperti contoh barusan diperbolehkan atau bahkan diwajibkan maka tentunya pembahasan tentang Mandub dan Mubah lebih diperbolehkan lagi karena jelas lebih ringan ( dari sisi pertanggung jawaban. Pent ).

Jika para ulama membuat suatu illat ( sebab alasan ) terkait disyariatkannya Qiyas yang berupa realiatas wilayah cakupan nash yang terbatas ( Mahdud ), sementara kejadian – kejadian ( Waqaa’i )  tidak pernah habis atau berhenti maka sungguh illat ini sesuai dan cocok dengan segala hal baru yang belum pernah ada di masa Nubuwwah di mana ini sebagai pertanda bahwa dalam ibadah pasti ada hal – hal yang maknanya bisa ditangkap oleh akal sebab Qiyas sendiri tidak sah sebelum memahami makna atau illat  yang karenanya muncul suatu hukum.

 

  1. Walaupun kita menafsirkan bid’ah – bid’ah terbatas pada empat macam ibadah saja maka sungguh para ulama telah membuat Qiyas ( meng – qiyaskan ) dalam banyak masalah terkait dengan ibadah;

 

–          Para ulama sepakat meng – qiyaskan nifas dengan haid dalam semua hukum–hukumnya meski tidak ada nash rinci yang warid dalam setiap hukum yang terkait dengannya.

–          Mereka juga sepakat meng–qiyaskan rusaknya umrah karena senggama dengan rusaknya haji. Padahal hanya ada nash–nash yang menjelaskan rusaknya haji sebab senggama dan tidak ada nash–nash secara khusus terkait dengan umrah.

–          Disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa Beliau memperbolehkan mensucikan najis dengan segala benda cair yang bisa membersihkan najis seperti cuka dan air musta’mal yang berarti meng-qiyaskannya dengan air. Ini karena Najis adalah sesuatu yang bisa dicerna akal (ada rasa warna dan bau. Pent ). Berbeda dengan Hadats yang tidak bisa dicerna akal yang karenanya tidak dihilangkan kecuali dengan air ( wudhu atau mandi )

–          Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, wudhu dihukumi batal sebab kotoran yang keluar dari selain dua jalan karena di–qiyaskan kepada dua jalan.

–          Menurut Imam Abu Hanifah, batalnya shalat sebab tertawa terbahak–bahak adalah bertentangan dengan Qiyas. Merespon hal ini para ulama menjawab bahwa hadits terkait hal ini tidak shahih. Mereka tidak mengatakan: “Qiyas tidak diperbolehkan dalam masalah ibadah “

–          Syafiiyyah dan Hanafiyyah mengqiyaskan orang yang berbuka karena salah kepada orang yang berbuka karena lupa. Dan hal ini ditanggapi oleh Hanafiyyah dengan pernyataan bahwa hal itu bertentangan dengan Qiyas maka tidak bisa dijadikan standar Qiyas.

–          Memberikan batasan jarak bepergian – bagi orang yang membatasinya – tidak memiliki nash, melainkan diqiyaskan kepada hadits:

 

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأةُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Jangan seorang wanita bepergian selama tiga hari kecuali bersama lelaki mahram “ ( Muttafaq alaih dari Ibnu Umar ra )

 

Para ulama itu mengatakan: Ini sebagai petunjuk bahwa bepergian yang dianggap secara syara’ adalah perjalanan tiga hari.

 

Dengan contoh–contoh tersebut kita mengambil dalil keberadaan perkara yang mulia  ( al A’la ) sebagai dalil diperbolehkannya perkara yang lebih rendah ( al Adnaa ). Maksudnya jika diperbolehkan Qiyas dalam Ibadah yang merupakan pembahasan Halal dan Haram maka tentunya Qiyas lebih diperbolehkan lagi dalam masalah–masalah baru yang selaras dengan dasar–dasar yang memiliki makna logis karena perkara–perkara baru tersebut hanya berkisar dalam tataran Mandub dan Mubah.

 

  1. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam  sendiri biasa menjelaskan illat ( sebab yang mendasari suatu hukum ) ketika memberikan jawaban kepada para penanya untuk memberikan penjelasan kepada mereka bahwa suatu hukum bisa dicerna dengan akal fikiran. Saat ditanya tentang puasa hari Senin maka Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْـهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْـزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu atasku “ ( HR Muslim dari Abu Qatadah ra )

 

Jika hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai Qiyas tentunya penjelasan illat ( Ta’lil ) hanya akan sia – sia tidak berfaedah yang berarti tidak perlu ditanyakan. Padahal di sisi lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling jauh dari ucapan – ucapan tidak berguna. Jadi penjelasan illat yang dilakukan oleh Beliau dalam hadits tersebut mengandung misi pengajaran ( Ta’lim ) bagi umat untuk mengqiyaskan segala hal yang bermakna sama atau memiliki esensi yang tidak berbeda.

Sama dengan ini adalah penjelasan illat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada seorang wanita yang bertanya tentang haji yang dilakukan untuk ibunya yang wafat sebelum melaksanakan nadzar hajinya. Semestinya yang paling mudah dan singkat, cukup bagi Beliau shallallahu alaihi wasallam memberikan jawaban “ Ia “, tetapi karena dalam memberikan jawaban juga sekaligus menjelaskan illat maka Beliau bersabda:

دَيْنُ اللهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ

“Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi “( HR Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas ra )

 

  1. Jika Madzhab Pertama memahami bahwa menambah ibadah adalah bid’ah karena memperbaruhi hal yang belum pernah ada – padahal menambah itu bukanlah bid’ah – maka perlu diketahui bahwa para sahabat berbeda pendapat dalam bilangan rakaat shalat ba’diyyah jum’at yang menurut Ibnu Umar ra dua rakaat, Ibnu Mas’ud ra empat rakaat dan menurut Ali ra enam rakaat. Apakah dengan begitu lantas dikatakan bahwa Ibnu Mas’ud dan Ali radhiyallahu anhuma melakukan bid’ah?

 

Para ahli fiqih juga berbeda pendapat dalam bilangan rakaat shalat Tarawih antara 20 dan 36. Ini terkait bilangan, dan lebih penting dari ini adalah perbedaan pendapat di antara mereka seputar disyariatkannya sebagian ibadah seperti shalat qobliyyah maghrib, sujud syukur shalat tasbih, melakukan shalat sunnah yang memiliki sebab pada waktu yang dimakruhkan dll.  Penjelasan masalah ini secara lebih bagus bisa dirujuk buku Iqamatul Hujjah alaa annal Iktsaar fit Ta’abbud laisa bi bid’ah tulisan Syekh Abdul Hayy al Lacknow.


II. Keunggulan Madzhab Kedua

 

1.Takhshish Hadits

 

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْـهُ

“ Barang siapa yang memperbaruhi dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya...“

 

Ungkapan hadits, “…apa yang bukan bagian darinya “ adalah bentuk Takhsish ( mempersempit wilayah jangkauan ) yang berada dan manunggal dalam hadits ( dhimnal hadits ) di mana telah disepakati ulama bahwa bentuk Takhsish dalam nash lebih kuat dari pada Takhshish  di luar nash. Ini berbeda dengan teks hadits berikut yang di dalamnya tidak ada Takhsish. Yaitu sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terkait kemuliaan Madinah:

 

مَنْ أَحْدَثَ فِيْهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْـنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barang siapa yang membuat hal baru di dalamnya atau melindungi orang yang berbuat baru maka atasnya, laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia “( HR Bukhari dari Ali ra )

 

Jadi ungkapan “…apa yang bukan bagian darinya… “ menunjukkan bahwa di sana ada banyak hal – hal baru ( al Muhdatasaat ) yang masih termasuk dalam lingkup urusan agama ( yakni sesuatu hal yang selaras dan tidak bertentangan dengan satu dasar dari dasar – dasar agama ) khususnya menurut orang yang berpendapat tentang adanya Mafhum Mukhalafah.

 

Terkadang ada orang mengatakan: Ungakapan tersebut bukan memberikan makna lain ( Ta’sis ) melainkan hanya sekedar untuk menguatkan ( Ta’kid ) seperti firman Allah: “ dan ulah mereka membunuh para nabi dengan  tanpa hakQS Ali Imran: 181. dan tidak ada nabi yang berhak dibunuh. Jawaban dari hal ini adalah konsensus ulama ( Ijma’ ) bahwa Ta’sis lebih didahulukan dari Ta’kid karena kesucian Alqur’an dan hadits nabawi dari ungkapan sisipan ( al Hasyw )

 

Keabsahan adanya hal – hal baru ( al Muhdatasat ) yang selaras dengan dasar – dasar agama juga didukung oleh anjuran Umar ra kepada Abu Bakar ra terkait pengumpulan Alqur’an. Ketika Abu Bakar ra berkata: “Bagaimana anda melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?” Umar ra menjawab:

 

          هَذَا وَاللهِ خَيْرٌ

Ini, demi Allah adalah baik” ( Diriwayatkan Imam Bukhari dari Zaid bin Tsabit ra )

 

Dalam kasus ini Abu Bakar ra tidak mengkritik Umar ra dan juga tidak mengatakan kepadanya; “Andai itu baik tentu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melakukannya “. Ini menunjukkan bahwa pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan muncul banyak hal yang baik bagi umat dan tidak semestinya ditolak karena selaras dengan prinsip syariat  ( al Ushul ) dan juga akan terjadi hal yang bukan bagian dari syariat.

 

Selain hadits di atas, bentuk Takhsish ( mempersempit wilayah jangkauan ) yang berada dan manunggal dalam hadits ( dhimnal hadits ) juga terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

          مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً …

““Barang siapa membuat suatu sunnah hasanah ( perbuatan baik ) dalam Islam… 

 

Ungkapan dalam Islam  jelas menafikan bahwa maksud sunnah hasanah adalah terbatas urusan dunia dan kebiasaan saja, tetapi sebaliknya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah urusana Islam secara menyeluruh mencakup urusan agama dan dunia.

 

Selain dua bentuk Takhshish tersebut, pendapat Madzhab Kedua juga dikuatkan riwayat dari Abu Hurairah ra yang menyebutkan kata petunjuk dan kesesatan ( al Huda wa Dhalal )  Barang siapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala – pahala para pengikutnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barang siapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa – dosa para pengikutnya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka “.

 

2.Pengertian al Khulafa’

 

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

          كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ …فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

Setiap bid’ah itu sesatmaka tetapilah sunnahku dan sunnah al  khulafa ar rasyidin yang mendapat petunjuk …“

 

Ini adalah perintah dari Beliau shallallahu alaihi wasallam agar menetapi dan mengikuti sunnah para pengganti / al Khulafa’ betapapun telah dimengerti ketiadaan garansi bahwa mereka terjaga dari dosa – meski mereka unggul dari yang lain dengan pemahaman yang dalam dan keteguhan menetapi prinsip agama – seperti halnya istilah al Arba’ah ( empat khalifah ) yang baru muncul pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mangkat. Sebagian ulama juga menambahkan yang kelima yaitu Umar bin Abdul Aziz. Bahkan sebagian lain juga mencantumkan selain Umar bin Abdul Aziz ( dalam daftar al Khulafa’).

Kenyataan ini menunjukkan bahwa al Khulafa’ adalah istilah umum yang mencakup setiap orang yang memegang teguh dasar – dasar ( Ushul ) syariat Allah yang berarti bila ia membuat suatu sunnah sesuai dengan Ushul maka ia layak diikuti karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri juga menegaskannya sebagai bagian dari khalifah Beliau seperti dalam hadits:

 

          رَحْمَةُ اللهِ عَلَى خُلَفَائِيْ . قِيْلَ : وَمَنْ خُلَفَـاؤُكَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ سُنَّتِيْ وَيُعَلِّمُوْهَا النَّاسَ

Rahamat Allah semoga tercurah atas para khalifahku. Dikatakan: Siapakah para khalifahmu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Orang – ang yang mencintai sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia “ ( Abu Nashr As Sijzi dalam al Ibanah – Ibnu Asakir dari Hasan bin Ali ra )

 

Berdasarkan hadits ini pula para ahli hadits menggunakan laqab Amirul Mukminin bagi para ulama ahli hadits di mana ini menunjukkan bahwa al Khulafa’  tidak terbatas pada masa tertentu – tentu saja ini tidak lantas menafikan keunggulan al Khulafa’ al Arba’ah dalam ilmu, fiqih dan keterdepanan mereka – seperti dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

          الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِـيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi “ ( HR Abu Dawud Turmudzi dari Abu Darda’ ra )

 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membuat perbandingan antara mengikuti sunnah Beliau dan sunnah al Khulafa ar rasyidun dengan hal – hal yang diperbaruhi ( Muhdatsatul Umur ), dan ini ( hadits ini ) juga termasuk bentuk Takhshish yang berada dalam hadits ( Dhimnal hadits ) yang juga menunjukkan bahwa sunnah para khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sunnah hasanah. Inilah makna lain hadits “Barang siapa membuat suatu kebaikan…”

 

3.Pemahaman Sahabat ra

 

Masalah ini begitu jelas difahami oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Di era kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mereka melakukan hal – hal baru yang bisa jadi ditetapkan atau ditolak oleh Allah subhaanu wata’alaa sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

          تُحْدِثُوْنَ وَيُحْدِثُ اللهُ لَكُمْ

Kalian (boleh saja) melakukan hal – hal baru tetapi Allah (juga) membuat hal – hal baru bagi kalian “ (HR Bazzar dari Ibnu Mas’ud ra)

 

Bahkan ketetapan dan pengakuan (Iqrar) Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap hal – hal baru yang mereka lakukan merupakan suatu dukungan penuh (Ta’kid) bagi pemahaman mereka dan hal ini merupakan dalil / hujjah syar’iyyah (bisa diterima dalam syara’) seperti contoh – contoh berikut:

 

–          Rifa’ah bin Rafi’ ra ketika I’tidal membaca:

الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّـبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak bagus dan diberkahi“

 

Hal ini terjadi di dalam shalat yang merupakan ibadah sentral (Ummul Ibadat) dan menanggapi ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدِ ابْتَـدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلاَثُوْنَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا

Demi Dzat yang diriku ada dalam kuasaNya sungguh lebih dari tiga puluh malaikat bersegera (berebutan) manakah di antara mereka yang akan membawa naik (ucapan tersebut ke langit)” ( HR Bukhari – Ahmad dari Rifa’ah)

 

 

–          Bilal ra berkata:

الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

 

Shalat lebih baik daripada tidur”

 

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jadikanlah itu (masukkanlah) itu ke dalam Adzanmu”(HR Thabarani dari Bilal)

 

–          Sebelumnya Ma’mum Masbuq diperintahkan agar melakukan shalat sendiri terlebih dahulu sesuai dengan jumlah rakaat yang terlewat darinya bersama Imam.kemudian baru setelah itu ia ikut bergabung shalat bersama Imam. Ketika Mu’adz ra datang sebagai Ma’mum Masbuq maka dalam hatinya ia memutuskan, “Aku akan terlebih dahulu mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan baru setelah itu aku mengqadha’ rakaat yang terlewat dariku”. Menanggapi ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

قَدْ سَـنَّ لَكُمْ مُعَـاذٌ فَاقْتَـدُوْا بِهِ…

 

Mu’adz telah membuat sunnah bagi kalian maka ikutilah dia!” (HR Thabarani dari Mu’adz ra)

 

–          Dalam Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa orang pertama yang membuat sunnah dua rakaat sebelum kematian adalah Khubeb ra.

–          Orang yang pertama kali memulai sunnah dua rakaat wudhu adalah Bilal ra seperti diriwayatkan Abu Hurairah ra bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal apakah yang paling kamu harapkan dan telah kamu lakukakan di dalam Islam, sebab sungguh di surga aku mendengar suara gesekan kedua sandalmu berada di depanku ..”(Muttafaq alaih)

–          Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim. Anas ra berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dulu kita melakukan shalat dua rakaat setelah matahari terbenam sebelum shalat Maghrib “ Mukhtar bin Fuluful ( perawi) berkata: Saya lalu bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga melakukannya?” Anas ra menjawab, “ Beliau shallallahu alaihi wasallam melihat kami melakukannya dan Beliau tidak memberi perintah juga tidak melarang “

–          Bahkan kisah Hubab bin al Mundzir ra – saat perang Badar ketika ia berkata, “Wahai Rasulullah, tempat ini apakah Allah memang Menempatkan engkau di sini yang berarti tidak ada bagi untuk maju atau mundur darinya, atau memang hanya pendapat, peperangan dan tipu muslihat?” – menunjukkan bahwa mereka (para sahabat) membedakan antara sesuatu yang memiliki makna yang bisa dicerna akal (Ma’qul al ma’na) dan sesuatu yang tidak bisa dicerna akal. Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga tidak akan membiarkan mereka melakukan hal baru dalam agama Allah bila mana hal baru tersebut sesat karena seperti telah dimengerti dari petunjuk dan tarbiyah Beliau yang senantiasa menetapkan dan mengukuhkansuatu pengantar (Muqaddimah), metode dan cara seperti halnya menetapkan dan mengukuhkan hasil seperti dalam sabdanya, “Dua hakim di neraka dan satu di surga…atau memutuskan hukum tanpa ilmu, keduanya ada di neraka” (HR Hakim dalam al Mustadrak dari Buraidah ra) yakni meskipun hakim itu benar, ia tetap di neraka karena metode dan caranya dalam menetapkan hukum tidak mengikuti dasar – dasar yang telah ditetapkan (Ushul). Dan seperti sabda Beliau, “Barang siapa yang berkata tentang Alqur’an dengan pendapatnya maka sungguh ia berbuat salah meskipun ia benar”(HRAbu Dawud Turmudzi Nasai dari Jundub ra) “Barang siapa berkata tentang Alqur’an tanpa ilmu maka hendaknya bersiap menempati tempatnya di neraka”(HR Abu Dawud Turmudzi dari Ibnu Abbas ra), bahkan pada suatu saat terkadang Beliau lebih banyak mengukuhkan / menetapkan metode dan cara lebih banyak daripada hasil seperti dalam kisah Bani Quraizhah dan sabda Beliau shallallahu alaihi wasallam:

 

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Jangan siapapun yang shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”(HR Bukhari Muslim dari Ibnu Umar ra)

 

Di mana dalam hal ini sebagian sahabat ada yang shalat Ashar di jalan dan sebagian lagi shalat di Bani Quraizhah setelah mereka baru sampai di sana sesudah Isya’. Tenyata Beliau shallallahu alaihi wasallam sama sekali tidak menyalahkan kedua kelompok dan bahkan dalam kasus lain Beliau menyebutkan, “Barang siapa berijtihad lalu mencocoki kebenaran maka baginya dua pahala. Dan barang siapa salah maka baginya satu pahala”(Muttafaq alaih dari Amar bin Ash ra). Karena itulah jika ada yang mengklaim bahwa hal tersebut secara khusus hanya bagi para sahabat maka hendaknya ia memberikan dalil.

 

Demi melariskan arus pemikiran dan prinsip serta memberikan dalil keharaman berbuat Bid’ah (sesuai pemahaman mereka), Madzhab pertama mensitir firman Allah:

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ…

Wahai orang – orang yang beriman, jangan kalian mendahului Allah dan RasulNya dalam memutuskan suatu hukum…”(QS al Hujurat:1 )

 

Jawaban dari ini adalah:

 

Jika langkah mendahului Allah dan RasulNya yang dilakukan selain sahabat adalah Majaz (sindiran), berarti langkah mendahului yang dilakukan para sahabat adalah sebuah Esensi (Hakikat). Sementara telah kita mengerti dari contoh – contoh di atas (dan masih banyak yang lain) bagaimana mereka mendahului  Allah dan RasulNya dalam hal – hal tersebut dan sama sekali mereka tidak menganggap bahwa itu berlawanan dengan ayat, padahal mereka adalah teladan dan panutan kita.

 

Sementara itu ada kelompok lain yang berhujjah bahwa para sahabat melakukan hal tersebut di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena mereka meyakini akan dibenarkan jika salah, akan diperbaiki jika rusak dan akan dibersihkan jika kotor oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Kita menjawab:

 

Tetapi pada kenyataannya langkah tersebut juga diambil oleh para sahabat radhiyallahu anhum pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat seperti contoh – contoh berikut ini:

 

* Pengumpulan Alqur’an dan ucapan Umar ra, “Demi Allah ini baik” (HR Bukhari dari Zaid ra)

*   Mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat Tarawih dan ucapan Umar:

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Bid’ah yang paling baik adalah ini”(HR Bukhari dari Abdurrahman bin Abdul Qari ra)

 

Di sini kita mengembangkan bahwa sebagian orang dari Madzhab Pertama berusaha menta’wil ucapan Umar ra bahwa yang dimaksud dengan Bid’ah dalam ucapan Umar adalah Bid’ah Lughawiyyah (bahasa), bukan Bid’ah Syar’iyyah agar ucapan ini tidak bertentangan dengan prinsip gebyah uyah mereka (Kulliyyah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.

 

Kita tidak akan berusaha untuk menolak rincian ini tetapi kita menuntut darinya agar menjelaskan kesesuaian setiap yang baru yang memiliki makna yang bisa dicerna akal dengan prinsip dasar (Ushul) sesuai standar Bid’ah Lughawiyyah dan menetapkan lafazh “Bid’ah“ dalam hadits, “ Setiap bid’ah itu sesat” dalam pengertian Bid’ah yang bertentangan dengan Ushul disertai tidak adanya benturan dalam Istilah.

 

* Penambahan Adzan ketiga ketika masuk waktu zhuhur oleh Utsman ra  di mana adzan itu dikumandangkan di atas tempat tinggi di pasar (Zaura’) (diriwayatkan Imam Bukhari dari Saib bin Yazid ra)

 

* Pengumpulan Alqur’an oleh Utsman bin Affan ra ( HR Bukhari dari Hudzaifah ra)

* Muawiyah ra mengusap empat rukun di Baitullah Ka’bah (HR Bukhari dari Abu Sya’tsa’ ra) dan ucapan Beliau: “Tidak boleh ada sesuatu dari al Bait yang ditinggalkan” ditambah kesaksian Abdullah bin Abbas ra bahwa: “Muawiyah ra adalah orang yang pandai (faqih)”

 

*Ta’rif, yakni mengumpulkan manusia di masjid – masjid pada hari Arafah di mana ini dilakukan oleh Ibnu Abbas ra dan Amar bin Huraits ra. (HR Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf)

Jadi apa yang dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu anhum pada masa hidup dan setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat menunjukkan diperbolehkannya pembaharuan (al Ihdats wa al Ibtida’), membuat hal baru yang sesuai dengan Ushul dan memiliki makna yang bisa dicerna akal.

 

4.Pendapat Para Ulama

 

Jika sebagian orang masih belum menerima pemahaman sahabat radhiyallahu anhum dan juga tidak menerima penetapan (Iqrar) Nabi shallallahu alaihi wasallam – sungguh kelakuan mereka sangat buruk – maka marilah kita meneliti pendapat para ulama setelah mereka.

 

Tidak ada ulama yang berpendapat seperti Madzhab Pertama kecuali Imam Syathibi ( Abu Ishaq al Ushuli, bukan Abu Qasim al Muqri’) pemilik kitab al Muwafaqat fi al Ushul wa al I’tisham fi al Bida’ dan (masih kemungkinan/ Ihtimal) juga Ibnu Taimiyyah di mana keduanya ini bukanlah Salaf karena seperti disepakati para ulama, Salaf adalah generasi tiga abad pertama.

 

Jadi mayoritas (Jumhur) ulama berpendapat seperti Madzhab Kedua. Inilah pendapat mereka:

–          Abdullah bin Mas’ud ra berkata:

 

مَارَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ

“Apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin baik maka itu di sisi Allah juga baik” (Ahmad Thabarani Bazzar dengan sanad Hasan)

 

–          Imam Syafii rahimahullah (termasuk generasi Salaf /150 – 205 H) berkata:

الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا مَا خَالَفَ كِتَابًا وَسُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةٌ وَضَلاَلَةٌ, وَالثَّانِي مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ غَيْرُ بِدْعَةٍ وَغَيْرُ مَذْمُوْمٍ

 

[Perkara yang diperbaruhi (al Muhdatsat) ada dua macam; 1)sesuatu yang bertentangan dengan kitab dan sunnah atau ijma’ yang berarti bid’ah dan sesat.2) kebaikan yang diperbaruhi dan ini bukanlah bid’ah juga tidak tercela]

–          Ungkapan di atas dinukil dan ditetapkan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Tahdzib al Asma’ wa al Lughaat, sebagaimana Syekh Izzuddin bin Abdussalam rahimahullah membagi bid’ah menjadi lima bagian (Wajibah, Mandubah, Mubahah, Makruhah, dan Muharramah)

 

–          Dalam Madzhab Hanafi: Penulis kitab al Lubab fi Syarhil Kitab ketika menjelaskan ungkapan “kesaksian pelaku Bid’ah tidak diterima” memberikan syarah / penjelasan: “Maksudnya para pelaku bid’ah tidak dihukumi kafir”. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bid’ah – bid’ah dalam kepercayaan (al I’tiqad).

 

–          Dalam Madzhab Maliki: Syekh Sholeh al Abiyy al Azhari dalam kitabnya Jawahir al Iklil Syarah Mukhtashar Khalil menukil: (Dengan tanpa bid’ah, maksudnya i’tikad yang bertentangan dengan i’tikad ahli sunnah)

 

–          Dalam Madzhab Hambali: Ibnu Qudamah al Maqdisi dalam al Mughni menuturkan: ( Fisiq dari sisi I’tikad (keyakinan) adalah keyakinan Bid’ah)

 

–          Sementara para ahli hadits (al Muhadditsun) membuat bab tersendiri yang secara khusus memuat tentang riwayat dari para pelaku bid’ah di mana di sini mereka menyebutkan Khawarij, Mu’tazilah dan Qadariyyah yang juga menjadi salah sumber riwayat Imam Bukhari dan yang lain.

 

–          Penulis kitab Fath al Mughits bi Syarh Alfiyyah al Hadits menukil dari Imam Ahmad bin Hambal:

إِذَا رَوَيْـنَا فِى الْعَقَائِدِ وَاْلأَحْكَامِ تَشَدَّدْنَا وَإِذَا رَوَيـْنَا فِى الْفَضَائِلِ وَالتَّرْغِيْبِ وَالْقَصَصِ تَسَاهَلْـنَا

 [Jika meriwayatkan tentang keyakinan – keyakinan (al Aqaid) dan hukum – hukum (al Ahkam) maka kami keras. Jika meriwayatkan tentang keutamaan – keutamaan (fadha’il), dorongan (Targhib), dan kisah maka kami melunak]

 

Ungkapan ini juga sepadan dengan yang dinukil dari Ibnul Mubarak, Ibnu Ma’in, Abdurrahman bin Mahdi serta Sufyan Ats Tsauri dan Sufyan bin Uyainah. Andai para ulama besar tersebut khawatir terjatuh dalam kesesatan niscaya mereka juga akan keras (ketat) dalam semua periwayatan termasuk dalam keutamaan amal (seperti kebiasaan Salafiyyah versi terbaru) karena mereka mengerti bahwa para ahli hadits memberikan syarat dalam Hadits Dha’if yang berupa harus tetap berada dalam naungan salah satu dari berbagai dasar (Ushul)

 

–          Ibnul Atsir al Jazari berkata dalam kitab Jami al Ushul:

 

[Perbuatan bid’ah dari para makhluk jika bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya (yang terkandung) dalam Alqur’an dan Hadits adalah termasuk dalam ketegori tercela dan diingkari. Jika termasuk dalam wilayah universalitas (keumuman) yang dianjurkan oleh Allah dan RasulNya maka masuk dalam kategori terpuji, meski sepadan riilnya belum pernah ditemukan seperti halnya model dari kedermawanan dan perintah kebaikan. Ini dikuatkan ucapan Umar ra tentang shalat tarawih, “Sebaik – baik bid’ah adalah ini”]

 

–          Adapun para ahli tafsir maka sungguh ketika menafsirkan firman Allah:

 

…وَرَهْبَانِيَّةَ نِ ابْتَدَعُوْهَا …

…dan rahbaniyyah yang mereka perbaruhi…”

 

Imam al Qurthubi berkata: [Dari sini dimengerti bahwa setiap yang baru itu bid’ah  dan bahwa sesungguh wajib bagi orang beriman menetapi bid’ah yang baik]

 

–          Seperti halnya Imam al Alusi dalam tafsir Ruh al Ma’ani yang menukil dan mengakui serta mendukung ungkapan Syekh Izzuddin bin Abdussalam (Sulthan al Ulama. Pent) tentang makna Bid’ah yang begitu luas.

 

Lalu adakah setelah kebenaran selain kesesatan? Apakah masih perlu kita menjelaskan lagi setelah menyebutkan penjelasan para ulama Fiqih dari empat madzhab serta penjelasan para ahli tafsir dan hadits, khususnya para salaf mereka utamanya Abdullah bin Mas’ud ra.

 

Dapat dimengerti dari ungkapan dan prilaku para ulama terkemuka tersebut bahwa hal – hal baru terbagi menjadi dua:

 

Pertama:   Sesuatu yang termasuk dalam dasar dan prinsip Aqidah dan Syariat. ini adalah bid’ah dan kesesatan.

Kedua:       Sesuatu yang termasuk dalam cabang – cabang (al Furu’) di mana ini terbagi:

 

  1. Sunnah Hasanah, yaitu sesuatu yang selaras dengan Ushul Syariat (dasar – dasar syariat) dan memiliki makna yang bisa dicerna akal.
  2. Sunnah Sayyi’ah, yaitu sesuatu yang bertentangan dengan Ushul Syariat atau tidak memiliki makna yang bisa dicerna akal.

 

Dalil – dalil dari pembagian (Taqsim) ini adalah seperti berikut:

 

1) Berbeda dalam al Ushul menurut Salaf adalah tercela. Sedang dalam al Furu’ adalah terpuji. Di antara mereka ada yang berkata: “Aku tidak suka memiliki hewan ternak yang kemerahan (menyenangkan) bila ada ikhtilaf di antara mereka”. Sementara Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar radhiyallahu anhum berkata:

 

اخْتِلاَفُهُمْ رَحْمَةٌ وَاسِعَةٌ

Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah rahmat yang luas”

 

Jadi kesesatan dan kesesatan adalah hanya berada dalam kepercayaan (I’tiqad / Aqidah), bukan dalam beramal.

2)Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  kepada para sahabat radhiyallahu anhum:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا

Maka sesungguhnya barang siapa dari kalian yang hidup (sesudahku), akan melihat banyak perbedaan”

 

Dan ternyata para sahabat pada masa mereka tidak melihat acara Maulid atau yang lain dari bid’ah – bid’ah yang telah disebutkan, tetapi mereka menyaksikan kelompok – kelompok dengan perbedaan dan jumlahnya.

 

3) Takhsish dengan metode mengumpulkan hanya berada dalam kumpulan pertama saja sehingga sabda Beliau  shallallahu alaihi wasallam, “ Barang siapa membuat sunnah hasanah…” (dalam kumpulan kedua. Pent) tetap berlaku umum. Adapun menurut Madzhab Pertama maka Takhshish ada dan menetapi semua hadits. Padahal kaidah Nahwu dan Ushul menyebutkan: (Bila penentuan/Taqdir dan ketiadaannya berkumpul maka ketiadaannya lebih didahulukan) sementara Takhshish adalah warna daripada Taqdir.

 

5. Perubahan Masa

 

Masalah perubahan hukum bersama masa (menyesuaikan masa) memang tidak bisa diingkari, sebab jika kita hanya terpaku kepada zhahir Nash maka agama ini akan membeku. Sebaliknya jika kita merubah sampai pada al Ushul maka kita akan menjadi seperti Yahudi dan Nashrani. Ini berarti yang benar adalah tengah – tengah antara ini dan itu. al Ushul tidak boleh dirubah oleh siapapun. Artinya hanya segala sesuatu yang tergali (al Mustanbathath) dari al Ushul itulah yang terkadang berubah menyesuaikan masa selama tidak bertabrakan dengan Nash Syar’i. Dalil keabsahan adanya perubahan ini banyak sekali yang sebagian di antaranya telah disebutkan:

 

  1. Pengumpulan Alqur’an (padahal tidak mungkin ada wahyu baru turun atau nasakh yang terdahulu pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat)
  2. Mengumpulkan orang untuk shalat Tarawih (padahal tidak mungkin akan turun perintah kewajibannya pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat)
  3. Fatwa Umar ra terkait Thalaq. Ibnu Abbas ra meriwayatkan: [Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, dan dua tahun pertama pemerintahan Umar, Thalaq tiga hanya jatuh satu. Umar kemudian mengatakan, “Sesungguhnya orang – orang terburu – buru dalam urusan yang sebenarnya mereka harus pelan – pelan. Andai kita mengesahkan atas mereka” Umar kemudian mengesahkan atas mereka. Ia lalu menghitung tiga Thalaq tiga tersebut karena niat (maksud) orang sudah berbeda. Dulu mereka mengucapkan Thalaq tiga hanya sebagai bentuk penguat (Ta’kid)  pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (HR Muslim)
  4. Fatwa Umar ra terkait hasul bumi daerah taklukan: Beliau berkata:

 

لَوْلاَ آخِرُ الْمُسْلِمِيْنَ مَا فَتَحْتُ قَرْيَةً إِلاَّ قَسَّمْـتُهَا سُهْمَانًا كَمَا قَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم خَيْبَرَ سُهْمَانًا , وَلَكِنِّي أَرَدْتُ أَنْ يَكُوْنَ جِرْيَةً تَجْرِيْ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ وَكَرِهْتُ أَنْ يُتْرَكَ آخِرُ الْمُسْلِمِيْنَ لاَ شَيْءَ لَهُمْ

Andai bukan karena kaum muslimin masa akan datang niscaya tidak kutaklukkan suatu daerah kecuali aku akan membaginya sesuai bagian – bagiannya  seperti Rasullah shallallahu alaihi wasallam telah membagi Khaibar. Akan tetapi aku bermaksud agar  daerah itu terus mengalir (hasilnya. pent) untuk kaum muslimin dan aku tidak suka kaum muslimin akan datang dibiarkan tidak memiliki sesuatu apapun” (HR Bukhari)

  1. Sanksi bagi para pemabuk (Sakran). Dari Anas ra sesungguhnya didatangkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang lelaki yang telah meminum Khamar. Beliau kemudian (memerintahkan agar itu dipukul) memukul orang itu dengan dua pelepah kurma sebanyak kira – kira 40 kali. Ini diikuti dan juga dilakukan oleh Abu Bakar ra. Sampai pada masa khilafah Umar ra, Beliau meminta pendapat kepada orang – orang. Abdurrahman bin Auf ra lalu memberikan pendapat: “Had paling ringan adalah 80”. Umar ra lalu menetapkan usulan ini.

 

Sebab atau illat dari hal itu adalah seperti dalam riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ra yang berkata: “Lalu kami khawatir musuh datang kepadanya dalam kerumunan manusia dan lalu membunuhnya. Maka kami jadikan pukulan dengan cemeti itu secara terang – terangan”

 

  1. Al Muallaf Qulubuhum. Umar ra mengehentikan bagian mereka karena kemuliaan Islam(bisa dirujuk dalam Mushannaf Abdurrazzaq dan yang lain dalam kisah Ardhu Uyainah)

 

Di sini kita melihat peran Umar ra dalam masalah ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِيْ فَرْيَةً حَتَّي رَوِيَ النَّاسُ وَضَرَبُوْا بِعَطَنٍ

Kemudian Umar bin Khatthab datang lalu merubah timba besar. Maka aku tidak melihat seorang pemimpin agung dan jenius yang merobek timba besar (dan lalu mencurahkannya) sehingga manusia menjadi segar dan mereka pun membuat tempat unta menderum”(HR Bukhari dari Ibnu Umar ra)

 

Abu Nuaim dalam al Hilyah  meriwayatkan dari Arzab al Kindi sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ أَشْـيَاءُ فَأَحَبّـُهَا إِلَيَّ أَنْ تُلْزِمُوْا مَا أَحْدَثَ عُمَرُ

Akan ada setelahku banyak sesuatu, maka yang paling aku sukai dari sesuatu itu adalah kalian menetapkan diri kalian pada apa yang diperbaruhi oleh Umar”

 

  1. Imam Bukhari meriwayatkan ungkapan Aisyah ra:

 

لَوْ أَدْرَكَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ

Andai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapati apa yang dilakukan para wanita niscaya Beliau akan melarang mereka seperti halnya para wanita Bani Israil dilarang (Maksudnya shalat di Masjid)”

 

  1. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

أَلَمْ تَرَىْ أَنَّ قَوْمَكِ  بَنَـوْا الكَعْبَةَ وَاقْتَـصَرُوْا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيْمَ…

Bukankah kamu melihat kaummu membangun ka’bah dan mereka mengurangi bangunan seperti ditetapkan oleh Ibrahim…”

 

Ibnu Umar ra berkata: Sungguh jika Aisyah mendengar ini dari Nabi shallallahu alaihi wasallam maka,“Aku tidak pernah melihat Beliau meninggalkan mengusap dua rukun yang berada di sebalah Hajar kecuali hanya karena al-Bait belum disempurnakan sesuai kaidah – kaidah Ibrahim” Al Azruqi meriwayatkan bahwa Ibnu Zuber ra mengusap rukun – rukun seluruhnya ketika Beliau selesai membangun al-Bait sesuai kaidah – kaidah Ibarahim, dan ini disebutkan oleh Imam Bukhari secara ringkas (di mana ini menjadi tanda perubahan masa)

 

  1. Ungkapan para ahli fiqih Madzhab Hanafi dalam banyak masalah: “Sesungguhnya khilaf/perbedaan antara Abu Hanifah dan dua santrinya (Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf) adalah perbedaan masa, bukan perbedaan fiqih
  2. Bahkan masalah perbedaan masa /Ikhtilaf Zaman (yang menjadikan hukum berbeda.Pent) secara jelas juga warid dalam hadits dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْـزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْـزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

Demi Dzat yang diriku ada dalam KuasaNya, sungguh (dekat) akan turun di antara kalian Ibnu Maryam sebagai juru putus yang adil. Ia lalu memecahkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak…”

 

Terbebasnya pajak jelas karena perbedaan masa (yakni tidak dibutuhkan lagi dan sudah tidak ada alasan). Akan tetapi, tidak semestinya berulang kali dibedakan antara sesuatu yang tetap dan tidak akan pernah goyah, yakni al Ushul, dan sesuatu yang mungkin berubah yang berupa al Furu’ yang sama sekali tidak ada nash yang warid tentangnya.

  1. Umar bin Syubbah meriwayatkan dari Ibnu Syihab yang berkata: [Orang pertama kali yang mengadakan pengajian rutin (memberi ceramah) di masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Tamim Ad Dari ra. Mulanya ia meminta izin kepada Khalifah Umar ra untuk memberi peringatan (Tadzkiir) kepada khalayak akan tetapi tidak mendapat izin. Barulah pada akhir pemerintahannya, Umar ra memberi izin kepada Tamim untuk memberikan Tadzkirah setiap hari Jum’at sebelum Umar ra (Imam) keluar]

 

Bisa saja ada orang menentang dan mengatakan: “Andai itu baik tentu Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memberikan petunjuk kepada kita”. Jawabannya adalah: (Perubahan masa. Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, khalayak cukup dengan satu kalimat wejangan. Ini berbeda dengan masa sesudah itu di mana khalayak membutuhkan akan ceramah dan nasehat.Inilah yang dirasakan oleh Umar ra sehingga Beliau setuju dengan ide Tamim Ad Dari ra yang tercatat sebagai orang pertama  yang memberikan penerangan (memasang dan menyalakan lampu) di Masjid Nabawi” (Lihat al Hilyah dari Abu Hurairah ra)

 

 

6. al Mafdhul dan al Fadhil

 

Andai kita memperkirakan adanya sanggahan, “Masa tidak berubah”, – meski hal ini bertentangan dengan akal – maka sungguh terkadang ditemukan dalam al Mafdhul (yang diungguli) sesuatu yang tidak ada dalam al fadhil (yang unggul). Artinya meski kita mengakui keutamaan dan keunggulan generasi tiga abad pertama, akan tetapi tidak menutup kemungkinan ditemukan juga keutamaan pada era setelahnya sesuatu keutamaan yang tidak ada pada era tiga abad pertama. Hal ini telah menjadi kesepakatan dan dalilnya adalah kisah Sayyidina Musa dan Khadhir alaihima wa ala nabiyyina as shalatu wa as salam. Orang pertama (Nabi Musa as) secara Ijma’ jelas lebih utama daripada orang kedua (Nabi Khadhir as).

 

Selain itu adalah:

 

–          Hadits “Umatku yang pilihan (Khiyar) adalah yang pertama dan yang terakhir” (HR Thabarani dari Abdullah bin As Sa’di ra). Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

مَثَلُ أُمَّتِيْ مَثَلُ الْمَطَرِ لاَ يُدْرَي أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan yang tidak diketahui manakah yang lebih baik; awal ataukah akhirnya”(HR Ahmad Turmudzi dari Anas ra. Ahmad dari Ammar ra)

–          Hadits tentang para syahid (syuhada’) dalam pembebasan konstantinopel riwayat Imam Muslim:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ يَنْـزِلَ الرُّوْمُ بِاْلأَعْـرَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنَ الْمَدِيْنَةِ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ اْلأَرْضِ يَوْمَئِذٍ فَإِذَا تَصَافُّـوْا قاَلَتِ الرُّوْمُ خَلُّوْا بَيْنَـنَا وَبَيْنَ الَّذِيْنَ سَـبُّوْا مِنَّا نُقَاتِلُهُمْ . فَيَقُوْلُ الْمُسْلِمُوْنَ لاَ وَاللهِ لاَ نُخَلِّيْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْـوَانِنَا . فَيُقَاتِلُوْنَهُمْ فَيَنْـهَزِمُ ثُلُثٌ لاَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ أََبَدًا  وَيُقْتَلُ ثُلُثٌ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللهِ وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لاَ يُفْتَـنُوْنَ أَبَدًا…

 

Qiyamat tidak akan datang sehingga Rumawi bertempat di A’raq atau Dabiq. Tentara dari Madinah lalu datang kepada mereka (di mana tentara tersebut) adalah penduduk bumi pilihan pada waktu itu. Ketika mereka berbaris maka Rumawi berkata: “Biarkan antara kami dan antara orang – orang yang mencaci maki kami, kami akan memerangi mereka”Kaum muslimin lalu berkata: “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan antara kalian dan antara saudara – saudara kami. Lalu kaum muslimin memerangi mereka (Rumawi) sehingga sepertiga mereka (kaum muslimin) melarikan diri dan Allah selamanya tidak akan menerima taubat mereka, sepertiganya terbunuh sebagai orang – orang mati syahid yang paling utama di sisi Allah dan sepertiga lagi mendapat kemenangan dan tidak akan terkena fitnah selamanya…”

 

Dalam riwayat Abu Dawud dalam Masjid al Ussyar:

 

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِى مَسْجِدِ الْعُـشَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ لاَ يَقُوْمُ مَعَ شُهَدَاءِ بَدْرٍ غَيْرُهُمْ

Sesungguhnya Allah membangkitkan di masjid Ussyar pada hari kiamat para syahid yang tidak berdiri bersama para syahid Badar selain mereka”

 

–          Hadits yang artinya, “Orang – orang yang saling mencintai karena keagunganKu, bagi mereka ada mimbar – mimbar dari cahaya. Para Nabi dan Syuhada iri akan derajat mereka” (HR Ahmad Turmudzi dari Mu’adz ra)

 

–          Perbedaan / khilaf antara Abu Bakar ra, Umar ra dan Ali ra dalam masalah pemberian di mana Abu Bakar dan Ali menyamakan manusia secara keseluruhan sementara Umar melebihkan orang – orang yang terdahulu masuk Islam. Jika yang benar adalah melebihkan (Tafdhil) maka sungguh ditemukan pada Umar ra sesuatu yang tidak ditemukan pada Abu Bakar ra. Sebaliknya jika yang benar adalah tidak usah melebihkan maka sungguh ditemukan dalam diri Ali ra apa yang tidak ditemukan dalam diri Umar ra. Allahu A’lam.

 

–          Perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar meminta Istighfar kepada Uwes ra. Umar ra menceritakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ رَجُلاً يَأْتِيْكُمْ مِنَ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ …قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللهَ فَأَذْهَبَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ الدِّيْنَارِ أَوْ الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَهُ

Sesungguhnya akan datang kepada kalian seorang lelaki dari Yaman bernama Uwes …. Dalam dirinya ada putih (belang). Maka ia memohon kepada Allah hingga Allah menghilangkannya kecuali (selebar) tempat dinar atau dirham. Barang siapa dari kalian bertemu dengannya maka hendaknya ia memohon ampunan untuk kalian” (HR Muslim)

 

Alam Mimpi

 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُـوَّةِ إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتُ

Tidak tersisa dari Nubuwwat kecuali kabar – kabar gembira”(Bukhari dari Abu Hurairah ra. Muslim dari Ibnu Abbas ra).

 

1)      Mimpi Adzan (Turmudzi Abu Dawud Darimi Ibnu Majah dari Abdullah bin Zaid)

2)      Dari Zaid bin Tsabit ra. Ia berkata: [Kami diperintahkan bertasbih setiap selesai shalat 33 kali, memuji 33 kali dan bertakbir 34 kali. Lalu seorang lelaki dari Anshar dalam mimpi didatangi dan ditanyai, “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kalian agar membaca tasbih setiap selesai shalat dengan (jumlah) begini dan begitu?” orang Anshar itu menjawab: “Ia” Lalu orang yang datang berkata: “Jadikanlah tasbih itu 25 dan jadikan tahlil di dalamnya 25!” ketika pagi hari, lelaki itu datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan kepada Beliau (tentang mimpinya). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Lakukanlah!”(HR Ahmad Nasai Darimi Hakim Ibnu Hibban)]

 

3)      Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ra: [Seorang lelaki datang dan berkata: “Wahai Rasulullah, malam ini saya bermimpi seakan saya sedang shalat di belakang sebuah pohon. Saya melihat seakan diriku membaca Sajdah lalu bersujud dan saya melihat pohon itu seakan bersujud mengikuti sujudku. Lalu saya mendengar pohon itu ketika bersujud mengucapkan:

 

أَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي عِنْدَكَ بِهَا أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

Ya Allah, dengannya  tulislah pahala untukku di sisiMu dan jadikanlah ia simpananku di sisiMu. Dengannya, bersihkanlah dosaku dan terimalah ia dariku seperti Engkau menerimanya dari hambaMu Dawud!”

 

Ibnu Abbas ra melanjutkan: Kemudian aku menyaksikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca As Sajdah kemudian bersujud dan lalu aku mendengar saat bersujud Beliau membaca seperti bacaan pohon yang dibacakan oleh lelaki tersebut] (HR Turmudzi Hakim)

 

Sampai di sini kita berhaka bertanya: “Apakah kita akan membiarkan/meninggalkan secara total alam mimpi, khususnya ketika perihal ini telah dijelaskan dalam surat Yusuf dan yang lain serta banyak hadits? Ataukah kita akan membuka kedua daun pintu (membuka lebar – lebar) guna merubah hal – hal fardhu dan yang diharamkan (al Muharramat)?atau kita akan menempuh jalan tengah yang telah dan selalu menjadi ciri khas umat ini, yakni dengan mengikuti orang yang bermimpi yang dipercayai oleh pendengar dalam selain hal yang telah dijelaskan oleh Syara’? apakah disebut sebagai berbuat bid’ah orang yang berdo’a dengan susunan do’a secara khusus dalam malam tertentu karena mengikuti mimpi yang dilihatnya? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ كَلاَمٌ يُكَلِّمُ بِهِ الْعَبْدَ رَبُّهُ فِى الْمَنَامِ

Mimpi seorang mukmin adalah firman yang difirmankan Allah kepada hamba dalam tidur”(HR Thabarani – Dhiyauddin al Maqdisi dalam al Mukhtarah dari Ubadah ra)

 

Jadi orang cerdas adalah orang yang mengerti bagaimana mendengar kalam Allah secara seksama.

 


III. Kesalahan – Kesalahan Madzhab Pertama

 

  1. Semua umat tersesat dalam versi orang yang mengklaim kebenaran Madzhab pertama karena kita melihat hal – hal berikut adalah bid’ah:

a- Membaca Alqur’an tanpa Tajwid (di mana ini adalah bacaan yang diperbaruhi dan tidak pernah ada pada kurun awal)

b-Meletakkan tangan pada dada ketika bangun dari ruku’ di manai ni tidak pernah ada sebelum masa 50 tahun. Jadi sekarang kesesatan itu pasti atau sebelum masa 50 tahun.

c- Memberikan kuliah seuasai shalat. Memang benar para ahli fiqih berbeda dalam menentukan manakah yang lebih utama; berdiri untuk shalat sunnah atau membaca dzikir setelah shalat, akan tetapi tidak pernah tersebut dari mereka tentang disyariatkannya memberikan kuliah yang itu berarti mengusik para ma’mum masbuq (orang yang menambah rakaat setelah Imam salam).

d- Mengakhirkan Adzan waktu Isya’ sekitar setengah jam pada bulan Ramadhan.

e- Memperpanjang Qunut dengan model seperti yang telah dikenal. Sepadan dengan ini adalah do’a penutup.

f- Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah di mana konsep ini tidak pernah didengar dari Salaf juga tidak pernah dikenal pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan juga tidak pernah digemakan oleh seorang pun dari mereka. Padahal, betapa banyak hadits shahih yang ditolak hanya karena mengikuti konsep ini. Bahkan firman Allah:

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَـهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ..

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” …QS al A’raaf: 172.

 

Oleh mereka (ayat ini) diberikan ta’wil/ penafsiran yang sangat jauh (padahal mereka getol memerangi ahli ta’wil). Itu karena ayat ini secara jelas mencabut konsep mereka (Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyyah) sampai ke akar – akarnya. Bukankah lebih tepat dan sangat pas konsep ini yang disebut sebagai Bid’ah karena dibuat hanya untuk mengeluarkan kaum muslimin dari wilayah keimanan?

 

  1. Banyak dari hal – hal yang telah disebutkan dan dikatakan sebagai bid’ah ternyata telah ada pada masa Salaf seperti dzikir bersama (Dzikir Jama’i) [lihat at Tibyan milik Imam Nawawi], mengangkat tangan ketika berdo’a [Nama salah satu sub Kitab dalam Shahih Bukhari], do’a sesudah shalat dll dari berbagai hal yang mengantarkan dan mendorong kepada membuang sunnah – sunnah atas dasar hawa nafsu. Banyak orang yang tumbuh dalam komunitas tertentu mengatakan segala sesuatu yang baru sebagai Bid’ah, khususnya mereka yang tidak memiliki ilmu di mana hal itu menjadikan mereka tertimpa bahaya besar karena termasuk dalam kelompok yang disebut oleh firman Allah:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْـنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَـذَابٌ أَلِيْمٌ

Maka hendaknya orang – orang yang menentang perintahNya waspada dari tertimpa fitnah atau merasakan siksaan pedih”QS An Nuur: 63.

 

  1. Tindakan keterlaluan dalam mengklaim fasiq dan melukai umat di mana ini akan menjauhkan umat dari jalan Allah dan menanamkan kebencian akan agama Allah di hati mereka, “…Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu...”QS Ali Imran: 159. sehingga kami mendengar bahwa Syekh al Kasyk (al Khathib Abdul Hamid al Kasyk al Mishri) dianggap berbuat Bid’ah karena memakai kaca mata.

 

  1. Jika pendapat pertama benar (Madzhab Pertama) niscaya benar pula orang yang mengungkapkan bahwa sudah tidak ada lagi orang islam di muka bumi sejak abad 9,10 dan 11.(Ungkapan ini termaktub dalam Buku Ar Radd ala At Tashawwuf karangan Abdul Khaliq…). Jelas sekali bahwa ungkapan ini kebohongan yang nyata dan harus ditolak dan dibantah.

 

  1. Terlalu dalam mengurusi masalah – masalah ini akan melupakan kita akan banyak hal yang lebih penting yang di sana ada laknat dan ancaman keras seperti halnya Tato yang telah menyebar di negeri ini. Sementara tidak pernah kita mendengar ada khathib atau dai, atau kita membaca tulisan yang memberikan peringatan, padahal telah ada hadits shahih yang warid tentangnya. Atau seperti halnya fanatisme (Ashabiyyah), terlalu cinta dunia (al Hirsh) dan tidak berzuhud serta hal – hal lain yang menjijikkan yang dilakukan oleh orang yang disangka sebagai pelaku bid’ah di mana sangat mungkin ia lebih banyak lagi melakukan perkara haram murni yang telah disepakati dan ada nash – nash yang warid tentangnya.

 

  1. Jika benar – benar merenungkan teks “…setiap bid’ah itu sesat…”  dan keumuman teks, “barang siapa memperbaruhi…” maka akan ditemukan bahwa perbedaan para mujtahid dari masa sahabat sampai hari ini masih termasuk dalam konteks kedua teks tersebut. Sekira kebenaran hanya satu di sisi Allah saja, tidak berbilang maka setiap orang yang salah dalam suatu masalah berarti ia berbuat bid’ah dan memperbaruhi dalam agama Allah yang berarti ia masuk dalam kelompok sesat, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memberikan jaminan satu pahala bagi mujtahid yang salah.

 

  1. Nyelneh dan Popularitas. Banyak dinukil dari Salaf celaan terhadap model memperpendek pakaian karena tujuan popularitas. Ketika Utsman ra melakukan shalat empat rakaat di Mina maka Abdullah bin Mas’ud langsung membaca Istirja’( karena Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kedua sahabatnya [Abu Bakar ra dan Umar ra] selalu mengqashar shalat). Meski begitu, usai ber Istirja’ Ibnu Mas’ud bangkit dan lalu juga shalat empat rakaat. Orang – orang kontan heran dan bertanya: “Anda ber-istirja’ tetapi kemudian juga shalat empat rakaat?” Beliau menjawab:

 

الْخِلاَفُ شَـرٌّ

Khilaf itu jelek” (Diriwayatkan Abdurrazzaq dari Qatadah)

  1. Menghalangi orang berbuat kebaikan. Berapa banyak orang islam yang meninggalkan secara total puasa sunnah karena dikatakan kepadanya bahwa puasa nishfu sya’ban itu bid’ah. Betapa banyak para pecinta (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) meninggalkan bepergian ke Madinah secara total karena dikatakan kepadanya bahwa berziarah kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam itu maksiat. Dan masih banyak lagi contoh – contoh lain.
  2. Banyaknya bid’ah di sini – seperti disebutkan dalam al Band no 1- memberikan gambaran bahwa maksud tuduhan dan koar – koar itu adalah mengurangi dan melecehkan keagungan Nabi shallallahu alaihi wasallam – semoga derajat Beliau semakin tinggi dan bertambah mulia karena mayoritas bid’ah – bid’ah yang disebutkan adalah seputar sosok Beliau shallallahu alaihi wasallam – dan bahkan sebagian mereka ada yang lancang dan mengatakan: “Itu bukanlah dosa yang paling besar di sisi Allah”. Apakah orang yang bertindak jauh seperti ini memiliki bagian dalam agama Allah?
  3. Keraguan akan kepatutan islam bagi semua tempat dan segala masa serta larisnya sekularisme, khususnya di kalangan para pemuda yang terdidik oleh pendidikan barat karena sebab penyempitan dan kebekuan.
  4. Eksklusif (At Taasyardzum). Inilah yang dituduhkan oleh para musuh baru kaum muslimin bahwa islam hanya bersifat lokal.

 

 

 

 

 


IV. Kesalahan – Kesalahan Madzhab Kedua

 

  1. Melakukan perubahan dan penambahan dalam agama. Hal ini tidak akan pernah terjadi jika prinsip dasar (al Ushul) senantiasa dijaga. Buktinya sejak masa kenabian sampai hari ini tidak pernah ditemukan seorang muslim yang merubah shalat menjadi enam (waktu), merubah cara dan bilangan rakaatnya, berpuasa syawwal sebagai ganti ramadhan, atau merubah salah satu dari beberapa rukun agama. Memang – dan itu sangat disesalkan – ada fatwa – fatwa tentang kehalalan riba dan yang lain, tetapi itu bukan karena sebab bid’ah atau sunnah hasanah, melainkan karena tipisnya agama dan sifat wara’.
  2. Lebih mementingkan hal – hal yang diperbaruhi (al Muhdatsat) daripada sunnah – sunnah yang telah disyariatkan. Hal ini terkadang terjadi dan dilakukan oleh sebagian orang serta tidak mungkin bisa diingkari. Solusinya bukan dengan merubah kenyataan, tahjiir (penyempitan dan pembatasan) atau dicegah, tetapi dengan melakukan pembinaan (Tatsqif) tentang agama Allah.
  3. Banyak melakukan tugas – tugas ibadah (Wazha’if) dan pembebanan – pembebanan (Takalif), sementara kebiasan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah meringankan (Takhfif), tidak menyukai banyak pembebanan dan banyak bertanya. Ini memang benar, dan jawabannya adalah bahwa perintah termasuk dalam wilayah pilihan, bukan kewajiban atau tekanan. Jadi urusannya adalah luas. Tidak ada hak bagi yang mengambil atau melakukan untuk ingkar terhadap yang meninggalkan dan begitu pula sebaliknya. Allah berfirman:

بَلِ اْلإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيْرَةٌ

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri”QS al Qiyamah: 14

 

 

 

 

 

 


Penutup

 

Begitulah anda menyaksikan bahwa agama kita seperti yang dikatakan oleh Imam Thahawi adalah antara terlalu (Ghuluww) dan teledor (Taqshir). Dan ini sangat sesuai dengan masalah dan topik kita. Maka seyogyanya sikap tawassuth (moderat) dan tidak mengklaim, harus diambil terhadap setiap orang yang memperbaruhi sesuatu hal yang cocok dan selaras dengan tujuan – tujuan syariat seperti halnya tidak seyogyanya berbuat keterlaluan dalam membuat hal baru (Istihdats) karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menyukai banyaknya pembebanan, selain juga tindakan ini ( Istihdats) juga terkadang menjadikan campur aduknya hal yang asli dan hal yang diperbaruhi.

Kita memohon pertolongan dan kebenaran kepada Allah. Washallallahu ala sayyidinaa Muhammad wa alaa aalihii washahbihi wasalla.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s