Buah dari Puasa adalah menjadi Muttaqiin

Buah Puasa

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ  buah berpuasa dalam ayat di atas adalah derajat taqwa. Pertanyaannya adalah mengapa ujung perjalanan puasa yang sangat letih ini taqwa? Bukankah taqwa itu telah dikumandangkan setiap pekan saat khotib naik mimbar dan juga dikumandang para da’i-da’i setiap menyampaikan taushiahnya. Tentu saja ada rahasia besar. Rahasia inilah yang harus kita gali.

Pertama, kita mengenal keteladanan taqwa para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah yang mampu mewujudkan taqwa tertinggi, taqwa secara maksimal.

Kedua, kita mendapatkan fenomena orang awam yang menjalankan tingkatan taqwa terendah, sebagaimana tersirat ayat “jangan sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Keadaan taqwa orang awam ini merupakan terendah karena taqwa seseorang dalam keadaan bertauhid saat nyawa menjemputnya. Bekalnya hanya kalimat syahadat saja, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali Imran: 102)

Ketiga, merupakan taqwa standart kaum muslimin karena tidak mampu mencapai taqwa para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh. Taqwa standart ini dibuktikan oleh kaum muslimin selalu menjalankan perintah Allah Ta’ala dan sekaligus menjauhi larangan Allah Ta’ala. Buah dari taqwa inilah adalah rasa takut pada Allah Ta’ala, adanya rasa malu, selalu waspada, memiliki disiplin, bersikap mawas diri, berprilaku amanat (tanggung jawab), jujur, dan akhlak mulia lainnya.
Konsekwensi logis prilaku adalah mengikatkan diri pada hukum syariah Allah Ta’ala. Tidak permah menawar atas perintah Allah Ta’ala dan larangannya. Prilaku kesehariannya dihiasi kata-kata sidiq, kata-kata yang menyejukkan, bertindak jujur, selalu adil, memiliki bertanggung jawab, sabar, rendah hati, santun, memelihara diri, dermawan, memenuhi janji, tidak mendendam, dan berkasih sayang.

Taqwa sebagai tujuan dari perjalanan Romadlon disembunyikan dalam lubuk hati, sebagaimana sabda Rasulullah sholallah alaihi was salam yang diriwayatkan Imam Muslim: “Attaqwa hahuna” (taqwa itu di sini) seraya menunjuk dadanya tiga kali.

Mengapa perjalanan Romadlon terminalnya di Taqwa. Karena taqwa menjadi bekal hidup teristimewa. Karena itu taqwa menjadi nasehat utama yang dipesankan oleh para nabi dan rasul dulu, saat ini, dan kelak. Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوْا اللهَ

Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: bertaqwalah kepada Allah. (Q.S. An Nisaa’: 131)

Sekali lagi hikmah yang dapat disimpulkan dari “laallakum tattaqun” (agar bertaqwa) adalah agar kita semua menjadi takut (taqwa) menjalankan kemaksiatan-kemaksiatan, ini yang pertama. Dan yang kedua adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa (mencapai derajat atau kedudukan muttaqin).

Makna pertama cocok bagi orang-orang yang menjalankan puasa sedang pada dirinya telah melekat kemaksiatan. Dengan puasa insya’allah kemaksiatan yang dahulu dilakukannya menjadi berhenti. Sarana puasa sangat tepat baginya untuk membakar segala kesalahannya itu apalagi segala perangkat untuk itu telah disediakan di bulan Ramadhan seperti tarawih, tadarus, i’tikaf, dan sedekah lengkap dengan suasana yang mendukung di mana setan dibelenggu dan pintu neraka ditutup. Rasulullah saw bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ – رواه البخارى ومسلم

Puasa itu perisai. (H.R. Bukhari Muslim)

Makna kedua pas bagi orang yang menjalankan puasa sedang kualitas keimanannya telah stabil. Baginya sarana puasa dimanfaatkan untuk meningkatkan amaliah sehingga menjadi lebih tinggi. Dari sini dikenal istilah puasa khusus dan puasa khususul khusus yang khas dilakukan orang-orang dalam kelas yang tinggi. Puasanya di samping menahan larangan fisik juga menahan larangan psikis seperti menjaga keikhlasan hati. Sabda Rasulullah saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – رواه البخارى ومسلم

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan keikhlasan maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari Muslim)

Pada ayat tersebut digunakan perangkat kata: “laalla”. Menurut tata bahasa Arab, kata “laalla” bermakna tarajji yaitu pengharapan (barangkali) yang mungkin terjadi (optimisme). Namun bila kata “laalla” itu disebutkan di dalam Al Qur’an dan datangnya dari Allah swt maka dia tidak berarti pengharapan lagi tetapi berarti kepastian dan kenyataan (hakikat dan yakin).

Dari sini kalau puasa dijalankan dengan baik dan benar target taqwa pasti bisa dicapai. Kalau target taqwa ini bisa diraih, maka dialah orang yang beruntung jasmani dan rohaninya di dunia maupun di akhirat. Karena orang yang bertaqwa dijanjikan jaminan kemuliaan dan keistimewaan yang luar biasa. Di antara janji dan jaminan itu adalah:

Pertama, mendapatkan pujian. Firman Allah swt:

وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُوْرِ

Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Q.S. Ali Imran: 186)

Kedua, penjagaan dari musuh. Firman Allah swt:

وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لاَيَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْأً

Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (Q.S. Ali Imran: 120)

Ketiga, diberikan jalan keluar dan rizki yang halal tak diduga. Firman Allah swt:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Q.S. Ath Thalaq: 2-3)

Keempat, amal diperbaiki dan dosa diampuni. Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لِكُمْ ذُنُوْبَكُمْ

Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. (Q.S. Al Ahzab: 70-71)

Kelima, meraih dua bagian rahmat dan diberikan nur. Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَآمِنُوْا بِرَسُوْلِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ

Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. (Q.S. Al Hadid: 28)

Keenam, diterima amalnya. Firman Allah swt:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (pengabdian) dari orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Al Maidah: 27)

Ketujuh, meraih kemuliaan. Allah swt berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. (Q.S. Al Hujurat: 13)

Kedelapan, diselamatkan dari neraka. Firman Allah swt:

ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Maryam: 72)

Kesembilan, dicintai dan dikasihi Allah. Di dalam Al Qur’an disebutkan:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. At Taubat: 4)

Kesepuluh, dihilangkan gelisah dan sedihnya di dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ

Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa. (Q.S. Yunus: 62-63)

Kesebelas, diberikan ilmu laduni Firman Allah swt:

وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمْكُمُ اللهُ

Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah mengajarmu. (Q.S. Al Baqarah: 282).[]

Betapa agung derajat taqwa. Beratnya ibadah puasa untuk pencapaian derajat yang agung ini.

By: Ust. Imam Mawardi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s