Khutbah Pake Slide, Bolehkah?

Seperti biasa jika menjelang tidur, sering kali terlebih dahulu aku melihat-lihat Twitter, mengikuti sejenak apa saja aktivitas para orang populer (artis, pejabat, penulis papan atas, olahragawan, dll) ataupun cuap-cuap teman-temanku di jaringan sosial ringkas tersebut.

Dan di tengah-tengah aku membaca satu persatu timeline, aku dikejutkan tentang bahwa di masjid UI dan beberapa masjid di Malay, khutbah jumatnya menggunakan slide. Seketika timbul pertanyaan fiqih dalam hatiku, khutbah menggunakan slide? Bolehkah? Benar-benar fenomena baru sekaligus terbersit sedikit perasaan ada hawa tidak beres.

Memang hal ini boleh dibilang tidak (atau belum) populer. Namun lambat laun pasti akan menimbulkan keramaian, jika tidak boleh dibilang keributan atau fitnah. Dan sebatas pengetahuanku, Majma’ (konferensi) Fiqih di manapun belum membahas hal ini.

Tetapi tidak ada salahnya jika kita mengutak-atik pertanyaan ini, sebagai asumsi (iftirodhi) saja, sebagaimana yang dahulu sering dilakukan para salaf shalih kita untuk menjawab sebuah pertanyaan atas hukum yang sebenarnya belum terjadi. Hanya perkiraan saja.

Namun yang pasti, catatan ini hanyalah sekadar inferensi (istidlal) dan eksplorasi (istinbath) pribadi saja, berdasar aplikasi-aplikasi syariat yang aku pelajari selama ini, dan bukan jawaban final atas pertanyaan di atas. Jadi jangan dijadikan acuan, namun cukup sebagai gambaran umum saja jika suatu saat pertanyaan ini (khutbah pakai slide) muncul di permukaan.

Istilahnya, jaga-jaga saja.

Well, kembali kepada bahasan. Apakah bisa khutbah pakai slide? Meski memang terbukti efektif menghilangkan kantuk para audiens, para jamaah, sebuah fenomena umum menyedihkan di manapun yang selalu mengiringi ibadah shalat jumat yang agung.

Boleh jadi banyak yang suka dan pasti setuju dengan “terobosan baru” pengusir kantuk ini, namun permasalahannya, ini adalah ritual ibadah, dan ritual ibadah tidak berhubungan dengan konservatif atau modern. Ritual Ibadah sejak pertama kali ditetapkan, akan terus seperti itu dan tidak menerima perubahan apapun. Kecuali jika ada dispensasi syariat khusus dengan dalil pasti.

Memang harus diakui bahwa saat ini khutbah jumat tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam merubah keadaan (dan ini umum di semua dunia Islam), namun apa lantas dengan tidak merubah keadaan dan biar merubah sehingga ritualnya dimasuki sesuatu?

Jika kita tidak sensitif dengan kata bid’ah, maka khutbah menggunakan slide ini jelas sekali masuk dalam kategori bid’ah. Walau tentu membutuhkan perincian lagi bid’ah yang bagaimana. Semisal penggunaan michrophone untuk adzan.

Akan tetapi khutbah tidaklah seperti adzan. Jumatan tanpa adzan bisa masih sah, tapi tanpa khutbah, maka jumat tidak sah. Dengan kata lain, khutbah adalah rukun. Nah apakah rukun menerima pembaharuan?

Kaidah menyatakan bahwa segala hal yang berhubungan dengan ritual ibadah tidak menerima perubahan apapun, sebab dalil-dalil ibadah adalah qoth’iy (pasti), berbeda dengan mu’amalah (interaksi sosial) yang qoth’iy secara hukum dasar umum dan dhonniy (belum pasti) pada keadaan tertentu yang membuka peluang untuk menggali dan menentukan hukum baru.

Maka jika melihat hal-hal di atas, dariku pribadi, penggunaan slide untuk khutbah tidaklah begitu diperkenankan. Sebab seperti halnya haji yang prosesi pelaksanaannya tanggal 9 Dzul Hijjah saja, kenapa tidak bebas di hari apa saja sepanjang bulan Syawwal sampai Dzul Hijjah?

Jawabannya sebab ini adalah ritual ibadah, apalagi ibadah wajib, dan ritual itu mencontoh langsung dari Nabi. Seseorang tidak bisa membuat-buat sendiri bentuk ritual ibadah baru (jika tidak pada nantinya dibilang sesat).

Oke, masih sangat mungkin jika khutbahnya disyuting. Tetapi khutbah menggunakan slide sementara imamnya bisa jadi sibuk dengan slide-nya itu, atau setidaknya operatornya yang ribut dengan komputer/laptop/netbooknya? Sementara keharusan para audiens jamaah jumat saat khatib berkhutbah adalah MENDENGARKAN DENGAN SEKSAMA, tidak diributkan dengan hal lain yang bahkan jika audien itu berbicara sedikit saja bisa membatalkan pahala jumatnya, terlebih ini menggunakan slide yang jelas memecah konsentrasi jamaah dan Imam/Khatib sekaligus?

Pada akhirnya, satu hal yang mesti perlu aku ingatkan pada pembaca semua. Semua hal memang terus berubah, banyak menuntut dicetuskannya hukum-hukum baru. Namun ritual ibadah, sedikitpun tidak akan berubah, meski zaman dan teknologi berkembang seperti apa saja. Sholat dhuhur selamanya 4 rakaat, tidak akan berkurang atau bertambah (kecuali jika ada dispensasi syariat secara khusus). Hal itu, di samping memang tuntunan aslinya, juga untuk menjaga kesakralan ritual itu sendiri.

Akhir catatan, hati-hati dengan fitnah masa kini yang mencampur adukkan antara fakta dan kebohongan. Kembalilah kepada para Ulama’, para Habaib, para Kyai, yang mumpuni dan kredibilitas keilmuannya diakui. Jangan hanya dari baca-baca sendiri atau dari ustadz yang nggak jelas transmisi sanad keilmuannya. Wallahu a’lam.

oleh Awy’ Ameer Qolawun-Dua pada 20 April 2012 pukul 19:36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s