Apakah Hati Kita Masih Hidup? (taushiyah Abi Ihya’ Ulumiddin)

 Apakah Hati Kita Masih Hidup

Allah tabaaraka wataala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan (hati) kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”QS al Anfaal: 24.

Hati yang hidup merupakan sisi pandang Allah ta’aalaa sekaligus sasaran saputan cahayaNya. Tanpa hati yang hidup dan ramai oleh iman serta kilau keyakinan ini, manusia sebenarnya telah mati meski masih berada di kalangan orang-orang yang hidup. Allah ta’aalaa berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? …“QS al An’aam:122.

Atas dasar inilah tarbiyah kita dalam jamaah ini mengarah kepada pelestarian kehidupan hati agar tidak mati, memakmurkannya supaya tidak sepi dan melunakkannya agar tidak keras (tandus). Sungguh Allah telah menegur ahli iman dengan firmanNya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (luluh) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka… “QS al Hadiid:16. dan adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak tunduk (luluh), amal yang tidak diangkat (diterima) dan do’a yang tidak dikabulkan.

Hati manusia tidak berbeda dengan tubuhnya dalam selalu membutuhkan tiga hal berikut

1) penjagaan agar selamat

2) makanan agar hidup

3) dan pengobatan agar sembuh

Pertama: menjaganya dari hal yang disebut oleh Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan Wahan, kecintaan akan dunia yang merupakan pangkal segala kesalahan dan akar semua penyakit, dan Karahiyyatul maut, enggan dengan kematian yang menafikan keyakinan akan akhirat serta menggerus perasaan selalu mengingat janji pahala di sisi Allah serta siksaan dariNya.

Dengan Wahan manusia terseret kepada sesuatu yang lebih berbahaya bagi dirinya; yaitu kemauan-kemauan hati dan keinginan-keinginan nafsu yang berupa cinta kedudukan dan kekuasaan, mencari popularitas dan sanjungan, menuhankan makhluk Allah, hanya berusaha mendapatkan tepuk riuh massa dan ngatok (asal bapak senang) dengan para tokoh, serta berbagai corak perkara maknawi yang bisa menghancurkan individu dan jamaah. Hal-hal yang menghancurkan (Muhlikat) maknawi ini lebih berbahaya dibanding dengan Muhlikaat zhahir seperti halnya mencuri, berzina dan meminum miras. Jadi hawa nafsu adalah tuhan terburuk yang disembah di bumi sebagaimana Allah berfirman: “…Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun…“QS al Qashash:50.

Kedua: memberinya makanan berupa kontinuitas hubungan dengan Allah (Shilah billaah), senantiasa mengingatNya, bersyukur kepadaNya, dan berbuat Ihsan dalam beribada kepadaNya sebagai sarana meraih Izzah, kemuliaan yang memang diperintahkan oleh Allah agar kita mencarinya. Allah berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya…QS Fathir:10.

Jadi kemuliaan bukan dengan harta benda, pangkat, kedudukan dan keturunan. tetapi kemuliaan bisa diraih hanya dengan al Kalim at Thayyib; yaitu kalimat tauhid dan seluruh ibadah-ibadah lisan yang disertai amal shaleh yang bekerja (berfungsi) untuk meninggikan dan menjayakannya (baik dalam wilayah individu, keluarga, masyarakat dan negara). Sementara keutamaan berdzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dll. Justru semua orang yang beramal ketaatan karena Allah ia termasuk orang yang berdzikir kepada Allah. Karena itulah setiap dari kita hendaknya betul-betul memperhatikan keharusan-keharusan secara individu atau jamaah (iltizaamat fardiyyah atau jama’iyyah), khususnya;

1) menghadiri majlis taklim yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa keluar mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali”HR Turmudzi. Persamaan mencari ilmu dengan jihad fi sabilillah adalah realitas mencari ilmu yang merupakan usaha menghidupkan agama dan menghinakan setan, memayahkan diri serta memecahkan hawa nafsu dan kelezatan (Dalil al falihin 4/197).

2) mengagungkan dan mendirikan syiar-syiar Allah. Berdasarkan firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.“ QS al Hajj:32.

Ketiga: mengobatinya dengan sesuatu yang bisa menjadikannya baik dan bersih guna membangkitkan perasaan beragama (as syu’ur ad diinii), mengembangkan dorongan dari dalam diri sendiri, dan memenangkan an nafs al lawwaamah atas an nafs al ammaarah bi as suu’. Sesuatu itulah yang disebut jadwal “Muhasabah” , jadwal yang memuat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh seseorang kepada diri sendiri dan harus dijawabnya sendiri dengan “ia” atau “tidak” agar ia mengetahui sampai di mana tingkat penjagaan atau keteledorannya. Inilah Muhasabah yang secara sempurna hanya terjadi dalam internal dirinya sendiri tanpa ada pengawas kecuali Allah ta’aalaa. Di antara pertanyaan itu umpamanya:

Apakah anda telah menjalankan shalat maktubah tepat waktu?

Apakah anda menjalankannya dengan berjamaah?

  • Apakah anda menjalankan Qiyamullail?
  • Apakah anda telah membaca wirid harian, Alqur’an atau yang lain?
  • Apakah anda telah mengunjungi saudara fillaah? Apakah…? Apakah…?

Begitu pula halnya atas keteledoran di sisi Allah ta’aalaa supaya amal shalehnya tidak tertimpa bencana-bencana seperti ujub, riya’ , kibr, ghurur, ghuluww fiddiin, iri hati, melihat diri sendiri, merendahkan orang lain dll dari berbagai macam penyakit hati.

Dan saya memberikan tadzkirah kepada anda sekalian tentang hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa yang bergembira karena kebaikannya dan susah karena keburukannya maka dia-lah orang yang (benar-benar) beriman”HR Thabarani. Dan ungkapan Ali ra: [Keburukan yang menyebabkan kamu susah lebih baik daripada kebaikan yang menjadikanmu berbangga] dan ucapan Ibnu Atho’illah as Sakandari pengarang kitab “al hikam”: {Seringkali terbuka pintu ketaatan bagimu tetapi tidak terbuka (bersamanya) pintu penerimaan (Qabuul). Seringkali kamu terlibat dalam kemaksiatan yang justru kemaksiatan itu menjadi sebab wushuul ilallah. Kemaksiatan yang menyebabkan rasa hina dan rendah diri lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan bangga diri dan rasa sombong}

-الله يتولى الجميع برعايته-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s